Renungan Jum’at : Buah Berukhuwah

10 06 2011

Mahasuci Allah, Zat yang
telah membersihkan hati
untuk menyemai ruh
ukhuwah buat hamba-
Nya yang merindukan
kebersamaan. Terpujilah Dia, Zat yang
telah menghadiahi
banyak nikmat-Nya
kepada kita, sehingga
bisa bersama merasakan
kenikmatan berukhuwah.
Bro / sis sekalian, Salah satu di antara tiga
unsur kekuatan yang
menjadi karakteristik
masyarakat Islam di
zaman Rasulullah adalah
kekuatan ukhuwah; di samping kekuatan iman
dan kekuatan qudwah,
keteladanan. Dengan
tiga kekuatan ini,
Rasulullah SAW
membangun masyarakat ideal,
memperluas Islam,
mengangkat tinggi
bendera tauhid, dan
mengeksiskan umat
Islam di atas muka dunia kurang dari setengah
abad. Satu hal yang pasti, di
antara ranah
kebahagiaan dan ke-
izzah-an Islam bisa
kembali kita jejaki
ketika hidup dengan jalinan ukhuwah yang
mampu menepikan riak
kebencian dan
perselisihan. Dan ranah
ini bisa didapat setelah
berupaya saling mengenal. “Jiwa-jiwa
manusia ibarat pasukan.
Bila saling mengenal
menjadi rukun dan bila
tidak saling mengenal
timbul perselisihan.” (HR Muslim). Namun, satu peristiwa
perkenalan belum
cukup. Butuh interaksi
secara alamiah. Setelah
itu, waktu dan kualitas
pertemuanlah yang menentukan. Apakah
perkenalan berlanjut
pada persaudaraan.
Atau sebaliknya. Dan
keinginan kuat untuk
bersaudara mesti diutamakan dari
sekadar kenal. Terlebih
persaudaraan karena
iman dan takwa (baca
QS al-Hujurat [49] ayat
13). Proses mengenal adalah
sebuah tahapan, bukan
sesuatu yang akhir.
Karena kehidupan
adalah arus besar yang
terus bergerak, berubah, dan berganti.
Termasuk pada sikap
dan karakter. Boleh jadi,
seseorang bisa
terheran-heran dengan
perubahan teman lama yang pernah ia kenal.
Karena ada yang beda
dengan fisik, sikap,
karakter, bahkan
keyakinan. Perubahan-perubahan
itulah yang
mengharuskan seorang
mukmin senantiasa
menghidupkan nasihat.
Mukmin yang baik tidak cukup hanya mampu
memberi nasihat. Tapi,
juga siap menerima
nasihat. Dari nasihat
inilah, hal-hal buruk
yang baru muncul dari seorang teman bisa
terluruskan (baca QS
al-‘Ashr [103] : 1-3). Berburuk sangka
memang tidak
dibenarkan. Tapi, ketika
faktanya demikian dan
bahkan sudah juga
dinasihati, kewaspadaan mungkin jadi pilihan.
Karena tidak tertutup
kemungkinan,
keburukan bisa
menular. Paling tidak,
agar tidak kecipratan bau busuk temannya. Rasulullah SAW
bersabda, “Kawan
pendamping yang saleh
ibarat penjual minyak
wangi. Bila dia tidak
memberimu minyak wangi, kamu akan
mencium
keharumannya.
Sedangkan kawan
pendamping yang
buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu
tidak terjilat apinya,
kamu akan terkena
asapnya.” (HR Bukhari). Waspada tidak berarti
memutus pertemanan.
Apalagi menyebar hawa
permusuhan dan
kebencian. Karena boleh
jadi, sifat buruk bisa berubah baik.
Sebagaimana, baik
menjadi buruk.
Kontribusi sebagai
seorang teman mesti
terus mengalir. Paling tidak, dalam bentuk
doa. Ada beberapa buah
berukhuwah yang bisa
kita nikmati. Pertama,
ta’aruf; saling mengenal.
Kedua, tahaabub, saling
cinta. Ketiga, tafaahum, saling memahami.
Keempat, tanaashuh,
saling menasehti. Kelima,
takaarum, saling
menghormati. Keenam,
ta’awun, saling menolong. Ketujuh,
tahaadu, saling memberi
hadiah. Kedelapan,
tadaa’u, saling
mendoakan.
Kesembilan, tahafudz, saling menjaga nama
dan kehormatan
saudara dan tidak saling
menjatuhkan.
Kesepuluh, tazaawur,
saling mengunjungi; dan kesebelas, tasholuh,
saling mendamaikan.
(baca QS 9: 71, 183: 3,
90: 17, 5: 2, 49: 10, 49:
13).
Semoga bermanfaat, Assalamu’alaikum😉


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: